Tampilkan postingan dengan label a piece of story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a piece of story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2011

ada masa ada kala

A : Berapa lama kamu mengenalku?

B: Kurang lebih Lima tahun, 5 years 2 months to be exact. Waktu itu kamu menggunakan kaos oblong bertuliskan I LOVE NEW YORK dengan aksen sulur di bagian bawah. Seleramu aneh, dan kamu bilang itu unik. Haha.

A: haha, you have no idea where I got that shirt, waktu di phuket aku ketemu bule asal New York, he asked me, have I been to New York? dan aku jawab 'belum' then he gave me that shirt. Dan kaos itu jadi kaos favoritku, pertama karena warnanya kuning, kamu tau itu warna kesukaanku, kedua karna aksen sulur itu menarik perhatianku, sulurnya gak keputus dari ujung kanan sampai ke kiri. indah.

Lalu, kenapa kamu akhirnya memilih bertanya padaku di tengah ratusan manusia lain hari itu, kamu bisa saja bertanya pada Syra yang saat itu tepat di sampingku?

B: karena kamu mengenakan kaos berwarna kuning sementara yang lain mengikuti aturan pendaftaran, mengenakan kaos polos putih. Warna kuningmu itu mengganggu pandangan sekaligus menarik perhatianku. Dengan tanpa sadar, aku berjalan ke aramu, bertanya “kalau lupa bawa foto, masih bisa daftar gak ya?” haha. Seharusnya aku bertanya pada panitia.

A: dan, dengan baik hati aku membantumu menanyakan hal itu pada panitia.

B: Ya, kamu baik. Kamu seperti warna kuning. Ekspresif, mencerminkan kebahagian dan optimisme. Dan kamu membawaku pada biru. Penyuka biru sangat imajinatif, dan kamu selalu berhasil mengundang imajinasiku.

A: tapi aku kehilangan unsur kuning dalam diriku. Sementara kamu semakin biru. Ini tak adil.

B: sudahlah. Kita tidak sedang mengukur kadar warna dalam larutan. Kita sedang memandang dua buah jam dinding. Ah, sekarang giliranku bertanya. Kenapa kamu memajang dua buah jam dinding yang bentuknya hamper sama di ruangan ini?

A: yang biru, itu melambangkan kamu, tentu saja, dan kamu sadar akan itu. Yang putih, well, I have no idea, I just picked it up somewhere and put it on my wall. Sengaja kupajang keduanya dengan settingan waktu yang sedikit berbeda. Yang putih sengaja kusetel 10 menit lembih lambat daripada yang biru

B: Kenapa? Dan maaf jika aku menanyakan hal ini, baru kali ini aku diperbolehkan masuk ke kamarmu, setelah 5 tahun lamanya.

A: yang biru itu, adalah kamu dan waktumu, sementara yang putih adalah waktuku, jika aku belum mampu menyamakan posisi denganmu, aku masih punya waktu 10 menit untuk mempersiapkan diri. Curang, memang. Kadang, ketika kamu telat menjemputku, aku menyalahkanmu dengan berdasar pada waktu yang aku lihat pada jam biru. Namun ketika aku akan menemuimu, aku akan pergi jika jam putih sudah menunjukkan waktunya. Aku tak suka menunggu kamu. Menyedihkan. Aku tak pernah mau sekalipun menunggu kamu. Aku mau kamu ada ketika memang seharusnya kamu ada.

B: kamu….. mori, kita tidak sedang berkompetisi, kamu tidak bisa selalu menang, begitu juga aku, dan kita tidak sedang berbicara tentang –MAU-atau-TIDAK- . kamu tau apa maksud kedatanganku.

A: Ya, dan bisakah kita tidak membahasnya? Biarkan saja aku dengan asumsiku yang mungkin jauh dari presisi. Dan kamu, bisakah kamu menunggu sampai aku tertidur? Setelah itu kamu bisa kembali. Tapi tolong tunggu aku sampai lelap. Aku tidak suka menunggu kamu, apalagi melihatmu pergi.

B: Mori, maaf. Ada hal-hal yang memang harus kamu tunggu, entah sampai kapan dan ada hal-hal yang tidak bisa kamu hindari, dan kamu tidak bisa terus menghindar. Sadarkah kamu bahwa hitam telah merenggut kuningmu perlahan? dan, kurasa sudah saatnya aku pergi, dan sudah saatnya kamu...... melihatku pergi.

Mori, bergeraklah. lewati. kamu bukan tak mampu, kamu tak mau. itu pilihan kamu, dan ini pilihanku. kamu tau aku tak mungkin meninggalkan Raina, Ia tak bersalah, begitupun Raka yang baru saja hadir ke dunia. kamu tau ini tanggung jawab yang kupilih. bukan karena aku mau, tapi dari sekian banyak pilihan, ini adalah hal terbaik yang mampu kulakukan.


Senin, 08 Agustus 2011

Menggenapkan sang ganjil

Satu dan tiga
Tujuh dan lima
Ganjil adalah kurang
Namun kurang adalah perjalanan
~
Aku tak lagi mendayu-dayu dalam biru
Aku tak lagi mengejar sulur yang meliuk buruk
Aku tak lagi sesumbar ketika mendapat kabar
~
Merah dan kuning
Dicampur aduk hingga satu sama lain kehilangan warna yang hakiki
Aku ingin tetap merah
Aku akan tetap kuning
Dan kamu adalah bening
~
Ada bidang datar yang memutar, dan aku, kamu, kita menapakinya dengan apik
Ada sederet huruf yang kabur, dan aku, kamu, kita ikur berbaur
Kita mujur kali ini. Mari menabur syukur
Menganyam harap dari setiap sendi kehidupan
Membangun rasa dari sumsum asa
ada niat, ada laku, ada ukuran baku. tapi tidak kali ini
karena aku, kamu, kita tidak saling mengukir semu

Permata Hijau
08 agustus 2011
dimana suara peperangan dari ruangan sebelah tengah bersautan


Jumat, 15 Juli 2011

transatlantic


Rasanya seperti mencium bau durian tanpa penampakan buah berduri itu dari jangkauan mata.
Meraup dengan rakus memang tak pernah membuahkan kepuasan abadi.
Mulut kamu punya daya tampung, wahai manusia. Percuma jika kamu berusaha menyuap dirimu sendiri dengan 45 menu makanan favoritmu dalam satu waktu.
Kamu tahu apa itu waktu? Apa itu tarik nafas buang nafas? Apa itu berlari kecil? Apa itu bersandar dibawah pohon akasia? Apa itu mengecap after taste setiap kali kamu mengunyah pare? Apa itu luka diujung jempol kaki karena tersandung saat berjalan terburu-buru? Apa itu kedipan cahaya kunang-kunang di jaman sekarang? Apa itu lebam di hati?
Agra, tolong jangan berbicara seolah kamu tak punya waktu lagi untuk sekedar mengentaskan apa yg ingin kau sampaikan.
Agra, jangan kamu ulangi berbicara ketika kamu makan misua dengan sayur mayur pelengkapnya, mulutmu penuh dengan kata yang tak runut, berantakan.
Agra, jangan kau malu memayungi dirimu sendiri hanya karena payung pemberianku itu berwarna merah jambu dan bermotif bunga.
Agra, jangan menelan ludah berbarengan dengan mengedipkan mata. Itu membuatku merasa kamu bosan.
Agra, tolong jangan berkilah ketika kamu tahu bahwa kamu melontarkan rentetan kalimat panjang yang sesungguhnya kamu sendiri tak paham konteksnya apa.
“melati, aku ini pembela diri, kamu tahu itu dengan pasti, aku manusia dan akan tetap menjalani hakikatku. Bahwa aku tak bisa menepis ego, tak akan mampu menahan diri untuk memenuhi kebutuhanku akan kepuasan, kamu tahu aku haus dan juga jengah, dan aku akan tertidur dalam ilusi yang kupilih sendiri”
Demi pohon mangga yang kini tak lagi berbuah karena akarnya sudah kusirami minyak tanah, demi daun putri malu yang tak lagi merekah setelah kuncup terkena sentuhan sepatuku lalu tanpa sengaja aku injak, demi satu keranjang buah pisang yang kini membusuk di meja kayu jati di pojok kamarku, dan demi secangkir teh yang di bibir cangkirnya tertinggal bekas gincu merahku. Sumpah, aku ingin berlalu. Mengelabui masa lalu. Melampaui masa kini. Memadu jera dalam peristiwa. seperti kamu dan duniamu yang terkadang semu.
Kisah itu hanya harapan sebelum semuanya kejadian. Tapi tak setiap kejadian sejalan dengan pengharapan. Agra, kamu kakak sekaligus kekasih dalam imaji hati yang murni. selamat berlalu, darahmu dan darahku tak pernah bisa ditawar apapun. kita satu. kita membisu.

Kamis, 09 Juni 2011

sebut saja, KAMU

Semalam, baru saja, maksudku, beberapa menit yang lalu, ada senyawa yang terlampau reaktif bereaksi di antara nafas dan norma. Sebut saja kepasrahan. Ketika umpan disebar, tapi kail tak bergerak sedikitpun maka redamlah keinginan itu.
Bukan untuk lupa, tapi untuk kelak kau coba lagi.
Kamu duduk setengah bersandar dengan kedua tangan terbuka lebar memeluk gitar dan jarimu berdansa memetik nada. Adakah yang lebih indah dari itu? Saat ini, tentu belum.
Kamu reaktif cenderung impulsif. Menendang botol kosong ketika marah, mengerutkan dahi tanpa mau tau bahwa ada yang tersinggung dengan reaksimu.
Kamu ceroboh. Mematahkan kunci motormu sendiri. Tanpa sadar menyebabkan laptopmu terjatuh di dalam mobil. Meletakan gelas di ujung meja-membuatnya hampir tumpah-.
Tidak hati-hati mencukur kumis tipis di atas bibir sehingga meninggalkan luka segaris yang kau bilang itu keren.
dan akhirnya kamu pun lupa menaruh diri. lupa menyaring hari atau menuang syukur. kamu terlalu ceroboh pada masa. dan ia tak pernah mau tau. kamu akan mengkerut pada waktunya, mengkerut seperti siput yang sembunyi di balik cangkang.
jakarta,
beberapa hari sebelum hari ini, maaf, saya lupa (lagi-lagi)

Kamis, 14 April 2011

Bisik Gendar Dalam Hati

Hingga malam juragan, saya berjualan.
Ada tetesan keringat seharga seratus perak, tapi ada juga darah yang tercecer sia-sia.
Bukankah saya juga berseragam? Saya berseragam manusia, sama seperti yang lain, bisa disentuh bahkan dibunuh. Seragam saya dan tuan sedikit berbeda. Tapi hakikatnya tetaplah sama. Bukankan seragam dibuat untuk meminimalisir perbedaan? Begitulah orang dulu, tuan, menyatukan sesuatu yang berbeda tanpa harus selalu membuatnya sama sama.
Permisi tuan, saya hendak menyerah pada lelah. tapi bukan pada iman saya, tuan boleh gerah dengan nafas saya. tapi saya tidak merasa penat dengan suara tuan yang senantiasa memekakan telinga saya.
Nama saya gendar, dan saya tak pernah merasa gentar. bahkan ketika seragam saya dilucuti, atau sekalipun tubuh saya dikuliti. selama debar itu masih gigih menuntun saya. saya lari dan berhenti setiap beberapa langkah, sekedar mengambil nafas, namun saya kembali menyusuri area yang sudah saya gambar sebagai peta dalam benak dan jiwa saya.
*teruntuk siapa saja yang berjuang di bawah sengatan matahari bercampur polusi.
matahari membuat kalian hebat

Minggu, 20 Februari 2011

avalanche

there's a hole. black hole. deep, dark, cold

gayatri menjerit sekuat tenaga, menguras tenaganya hingga habis. mengepalkan tanggannya begitu kuat, hingga kuku panjang jari tangannya melukai telapak tangannya. gayatri tak merasakan apapun, gayatri masih tak mendengar apapun.
gayatri mati dalam sepi
gayatri luruh dalam lintasan air medidih
gayatri mengubur dirinya sendiri dalam lubang gelap dan penuh jerami

senandung pagi yang ia cintai kini menjadi hal yang paling ia benci
ia menggenggam senapan panjang, menembaki semua burung yang berkicau di beranda rumahnya
gayatri mati lemas. lelah membunuh semua yang bersuara pagi ini
gayatri tak pernah berpikir akan bunuh diri, karena pada hakikatnya ia telah mati.
gayatri menjadi hantu bagi dirinya sendiri.
gayatri adalah diri. gayatri adalah pembunuh dan pengubur dirinya sendiri.
gayatri adalah mati.

gayatri menusuk hidup dengan belati, mencabik realita dengan kukunya yang sengaja dibuat runcing. satu yang tak mampu gayatri lakukan, ia tak akan pernah bisa menikam takdir.

Kamis, 17 Februari 2011

mem-pahlawan-kan diri?

Seruan damai itu hanya ada dikepala kami saja. Tapi di daratan luas ini, damai yang sejati seperti musnah dilahap masa. Entah apa yang jadi referensi hidup mereka. Mungkin film-film sci-fi yang menampilkan adegan heroik, atau sejarah yang tak tuntas mereka pahami maknanya. Jadilah tindakan setengah biadab yang mereka ambil, sebagai bagian dari “perjuangan” yang menurut mereka halal. Entah timbangan apa yang mereka gunakan untuk mengukur kadar halal itu.
Kita ini adalah keanekaragaman. Tak hanya di Negara ini, tapi dibelahan dunia sana keragaman justru adalah bumbu manis-asam-asin yang dengan kombinasi yang terpahami menjadi sebuah pola lingkungan yang selaras. Keragaman pola menikmati dan menjalani hidup adalah perpustakaan berjalan yang bisa dinikmati tanpa harus dibaca. Bagi kalian yang menyerukan nama tuhan dalam hembusan nafsu amarah, janganlah berlagak benar. Tunggu, tentu kalian merasa benar. Tapi jangalah lupa bahwa keseimbangan dari sebuah kebenaran adalah dengan melihatnya tidak dengan kacamata kuda dan tentu tidak bertindak seperti kerbau dicocok hidung. Kita hidup jauh di sebuah zaman yang memang sudah terlalu beragam, tapi bukannya pelajaran yang didapat menjadi berlipat ganda? menghadapi perbedaan yang tidak masuk ke dalam paham kalian dengan kekerasan itu seperti anak kecil yang memaksa dibelikan mainan. Saya tidak akan menyerukan salah terhadap tindakan kalian. Tapi jelas, saya tidak berada pada pandangan yang sama dengan kalian.

Rabu, 18 Agustus 2010

AJAL


menjelang ajal kita mengerang. menerjang segala upaya. tapi ajal akan selalu datang.
celakalah bagi mereka yang tak mau mati. haha, siapa pula manusia yang mau mati. bahkan pelacur tua yang tak lagi laku tak mau memilih mati. sekalipun mencoba bunuh diri, manusia tak pernah benar-benar ingin mati. yang mereka mau adalah lari. tapi selama kaki masih menginjak bumi, maka rusuh dan kisruh akan selalu menghampiri, beberapa memilih lari dengan cara mati. sayang mereka yang memilih lari tak menyadari, bahwa mati bukanlah pilihan, tapi harga mati yang harus ditebus oleh siapapun yang telah lahir baik diinginkan maupun tak diharapkan. mati adalah perubahan. dimana zat kita hidup didunia yang berbeda. surga atau neraka mari tak usah kita bicarakan, karena sesungguhnyaa surga dan neraka ada dimana-mana, tak perlu menunggu mati. kebaikan dan keburukan bersanding manis layaknya pengantin yang saling mencinta dan tak mampu dipisahkan. tak usahlah berdebat mengenai baik buruk dengan orang lain. tanya hati sendiri, ketika hati tentram maka baiklah sesungguhnya yang kita lakukan.

mari tak usah takut pada ajal, karena yang lebih mengerikan dari berhentinya detak jantung adalah raga yang sehat tapi jiwa terlanjur mati dibunuh sendiri. jiwa yang melayang entah ke ujung mana lebih mengerikan dari tubuh yang tergeletak tak berdaya. bukankah tubuh hanya media kita hidup? sebuah medium dimana jiwa kita 'numpang' selama menginjak bumi. toh ketika kita mati bukan tubuh kita yang dikenang. tapi perangai dan segala memori yang ada di dalam jiwa-jiwa lain yang bersanding selaras menajalani hidup dengan kita.

sang alkemis berlomba menemukan ramuan hidup. ramuan yang mampu membuat seseorang panjang umur dan kekal. tapi adakah kekal itu? bahkan kebaikan tak lagi kekal ketika kebaikan itu menyakiti yang lainnya. maka tak adalah kekal di dunia ini. cintailah jiwa, bukan raga. karena jiwalah yang membuat raga hidup. dan ketika raga mati, sesungguhnya jiwa masih mampu mencintai.

Kamis, 08 April 2010

aku, kami, kalian, kita -belum habis-

"cobalah bertindak dewasa" begitu katanya. katanya umurku sudah melebihi dua tangan dan dua kaki. aku balik bertanya.

"dewasa? memangnya selama ini apa yang aku lakukan? merengek minta diceboki? menggenggam dot dengan isi yang sudah kosong? menangis hanya karena tak sengaja menjatuhkan vas bunga ibu?"

pertengkaran ini cuma-cuma, sama saja seperti para politikus yang baku hantam tanpa rasa malu dengan dalih membela rakyat padahal tak lebih dari perang kepentingan pribadi. dia begitu kuat dihadapanku, terlalu kokoh. bahkan aku dapat dengan mudah menjatuhkan sebidang tembok tapi tak demikian dengan menjatuhkan ia. ia kuat namun lemah. ia kokoh namun rapuh. ia jeli namun ceroboh. dengan mudah aku menyalip diantaranya. katakanlah ia pintar, cerdas. tapi bagiku aku tetap membencinya setengah mati. lebih dari setengah umurku aku gunakan untuk membencinya. menghitung setiap kesalahannya. mencibir setiap keteledorannya. menggugat setiap kewajibannya.

dalam kebersamaan kami, ketegangan adalah bumbu wajib. kami tak pernah duduk sama rata. kami adalah undakan, dan dia selalu berada diatasku. kami tak pernah sama rasa, seperti nasi goreng yang tak diaduk dengan rata, ada bagian yang memiliki rasa dan ada yang hambar.
ia selalu bicara panjang lebar disertai berbagai teori yang -sayangnya-sangat logis. di sela-sela ocehan panjang lebarnya asap roko tak pernah ketinggalan menjadi bumbu. ibarat perjalanan, apa yang ingin ia sampaikan terlalu rumit, berbelit-belit hingga ia sendiri lupa kemana tujuannya.

"kamu harus mulai mengerti keadaan, jadilah dewasa. cobalah menempatkan diri pada posisi yang benar, mana yang salah, mana yang benar'

ucapannya bukannya membuatku ingin mendengarkan perkataannya lebih lanjut. aku malah asik berdailog dengan diriku. dewasa katanya? ohh definisi dewasa menurutnya adalah definisi paling kuno bagiku. -harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk-. kalau begitu, orang dapat dengan dewasa dengan mudah, hapalkan saja mana yang boleh dilakukan dari segi moral, agama, hukum. beli saja buku panduan bersikap baik. lalu beres. kita menjadi dewasa dalam sekejap. ikuti setiap larangan (baca: yang buruk) dan lakukan yang baik (baca: yang benar). sebut saja aku lalay, namun bagiku kedewasaan adalah kebutuhan. bukan keharusan, sebab ketika aku, saya, anda, kalian tak perlu untuk bersikap de-wa-sa maka aku,saya,anda, kalian tak diharuskan untuk bersikap de-wa-sa. dewasa? adakah teori nya? sini, biar aku lahap agar aku bisa dewasa seperti yang ia mau.

sebut saja, pengalaman mampu membuat seseorang menjadi dewasa. tapi apakah dewasa lalu menjadi sesuatu yang permanen?atau, kalau benar dewasa berbanding lurus dengan usia (ia bilang umurku sudah melebih dua tangan dan dua kaki) maka jelas, yang paling dewasa di dunia ini adalah manusia dengan umur terpanjang, yang masih hidup hingga saat ini tentunya.

"hey, kalau ada orang bicara, dengarkan!!!!" suaranya setengah berteriak, aku yakin suaraku lebih nyaring dari pada suaranya. jelas aku mampu membalas teriakkannya.
"iya, telingaku masih berfungsi dengan baik, aku dengar" ia tampak begitu lusuh, keriput menghiasi kulit wajahnya, warna rambutnya mulai memudar ditelan abu-abu.

"tolonglah kamu mengerti, kamu bukan anak kecil lagi, kamu tahu apa yang aku lewati, kami lewati, kita semua lewati, tolong bantu selesaikan masalah ini, jangan hanya menunjukkan sikap kanak-kanakmu dengan berkata bahwa semuanya bisa kembali baik-baik saja"

apa lagi ini? sikap kanak-kanak? lihatlah kalian berdua, saling menusuk dengan mencari seteru, apa itu namanya de-wa-sa yang harus aku contoh? saling menistakan tanpa mengingat ada aku,ada kami, ada bocah laki-laki berumur 8 tahun yang menyaksikan segalanya.
menjadi tua seperti kalian memang rumit, aku muak, aku, kami selalu dituding tidak mengerti.
aku hanya diam menanggapi kata-kata terakhirnya, ada ribuan kalimat yang ingin aku teriakkan padanya, tapi aku masih perempuan timur, dan aku masih 'takut kualat' maka kutahan, kutelan lagi ribuan kalimat itu. aku hanya diam memandangnya, aku berbicara atau tidak saat ini tak ada bedanya, ia adalah sang ayah, dan baginya aku, kami akan selalu menjadi sang anak. ya, 'anak-anak'. ia berlalu, dengan berpura-pura tidak mengetahui kemarahanku yang terkubur. karena ia sang ayah. dan aku tetap hanya diam. aku tidak mau menjadi pendosa dengan mengutuknya dengan kata. biarlah amarah ini tersimpan dalam hatiku, hati kami. karena sesungguhnya amarah ini bersandingan dengan rasa hormat dan sayang terhadap sang ayah.

manusia hidup, bergerak, berubah, berpindah
persetan dengan de-wa-sa yang kau bilang, aku, kamu, kita, kalian hanya perlu hidup. selesaikan apa yang telah dimulai. mulailah yang harus dilakukan,hadapilah apa yang sedang berjalan, bertahanlah untuk menuju penyelesaian, karena sebelum menuju selesai, kita belum benar-benar habis.

Selasa, 06 April 2010

AKHIR

tatapanmu terlajur melayang. dan aku terlanjur tersentuh. aku ingin hilang rasa. aku ingin hilang makna. akhir seperti ini bukan yang aku tulis dalam rencana hidupku. sayang aku menulisnya dengan tinta hitam, bukan dengan pencil kayu yang dapat dengan mudah aku hapus seenak perut. dulu aku ratu, penguasa, pemilik beribu pasang mata. dari ribuan pasang mata yang yang dengan cuma-cuma dapat menatapku, menelusuri setiap garis kecantikan dan kemolekkan tubuhku salah satunya adalah sepasang mata itu. sepasang mata tajam namun redup, perpaduan yang terlalu maha dahsyat bagiku.

sepasang mata itu (sempat) jadi miliku, selalu setia menatap pergerakanku. sesekali baradu pandang dengan mata sipitku. itu saja cukup (kala itu). sepasang mata itu ambisiku, tanpa peduli yang lain. aku hanya ingin sepasang mata itu. (kala itu) setiap kali aku nanar memandang hidup yang bagiku njelimet, sepasang mata itu mampu mengenyahkan segala rasa merana. aku hidup, bukan hanya menjadi ratu, tapi (kala itu) bersanding dengan raja. maka lengkap sudah. sempurna.

aku tak pernah mendengar suara, tapi aku tahu. kami tak pernah bersentuhan. hanya saling menatap dalam. sepasang mata itu berbicara. sepasang mata itu selalu menikmati keindahanku. memandangku hingga orgasme. lagi, dan lagi, dan lagi.

terlalu picik berpikir bahwa keindahan ini berbanding lurus dengan keabadian. tahtaku sebagai ratu akhirnya lengser juga. ada ratu ratu dari kerajaan lain yang menunggu dinikmati. dihujani tatapan terkesima. aku jatuh, aku kehilangan sepasang mata yang (sempat) menjadi tumpuan energiku. tak ada sepasang mata tajam namun redup yang menikmatiku. membisikkan kata-kata tanpa suara tentang betapa berharganya aku, betapa indahnya aku, betapa maha dahsyatnya kemolekkanku. dua belas tahun telah berlalu. dua belas tahun bukan waktu yang sesaat namun bagiku tetap tak pernah cukup. aku butuh dua belas tahun lagi, aku butuh dua puluh empat tahun lagi, aku butuh beratus tahun lagi bertatapan dengan sepasang mata itu. aku belum mau merasa kehilangan, aku belum mau merasa dicampakan, aku ratu, aku berhak bersanding dengan raja selamanya. aku ratu (dulu).

pada akhirnya semua menuju akhir, begitu juga keindahanku. aku peot, mulai keriput, waktu terlalu setia berjalan beriringan denganku. tak pernah berhenti beberapa menit saja agar aku dapat memiliki keindahan ini lebih lama. pantas saja sang raja memalingkan tatapannya. memecatku sebagai ratu, aku kini tak pantas disebut ratu. kulitku kusam, rambutku mulai rontok. tak ada lagi rambut hitam tebal bergelombang yang menjadi mahkotaku. ini adalah akhir bagiku. akhir masa keemasanku. aku tak lebih dari rakyat jelata yang tak perlu dihiraukan orang. pernah aku berpikir untuk mengakhiri eksistensiku sebagai manusia, sebilah pisau telah aku genggam,siap merenggut hidupku, lalu aku berpikir, siapa yang mau peduli? aku urungkan niatku.

seorang penasihat pernah berkata padaku, setiap akhir adalah sebuah awal. jatuhnya tahtaku adalah sebuah gerbang baru bagiku, awalan baru hidupku. seperti kematian, kita mati untuk hidup lagi, hidup abadi di alam sana. jika benar setiap akhir merupakan sebuah awal, lalu kapan kita benar-benar berhenti? berakhir tanpa ada awalan lagi?


*****


tulisan ini terinspirasi, hmmm...terpancing ketika mendengarkan lagu dari stars-ageless beauty.
Ageless beauty
Cruelty makes its holes
But on the shoreline
Time will hold its promise
We will always be a light
You can see it from the surface, see it
We will always be a light
You can see it from the surface, see it
We will always be a light
Tattered fingers
Lingering on the warm and foolish
Hardened faces
Graceless, we'll lose the battle
Oceans won't freeze
So loosen your heart
Underestimated
Undefeated in this love

Kamis, 25 Februari 2010

Ruas Asa


biar senyap menyergap
biar luluh membasuh
biar jeda tidak pernah mengada-ada
biar sirna ditelan murka
resah ini terlalu membuat gelisah
biar nyata yang berkata, aku tak akan berdusta
sumpah, aku lelah menelaah
tapi itulah asa, kadang tak perlu bersuara
maka biarlah lenyap dalam senyap
agar terang segera menerjang

Senin, 22 Februari 2010

persetan

Persetan dengan semua titahmu. Kau bukan nabi apalagi tuhan.
Kau himbau aku berhenti berjalan. Katamu lebih baik aku dia dirumah. Berbakti pada hakikatku.
Kau himbau aku berhenti berbicara. Katamu perempuan itu harus anggun. Lebih banyak gunakan telinga untuk mendengar. Biarkan mulut seperlunya bersenandung.
Kau himbau aku berhenti menyanyi. Katamu suaraku sengau, hanya mengundang cerca.
Kau himbau aku berhenti menulis. Katamu tulisanku tak lebih bagus dari cerita donal bebek.

Persetan denganmu. Persetan dengan titahmu.
Aku merdeka. Seperti anjing hutan yg bebas menggonggong dan berburu kesetiap rimba.

Siapa bilang menggongong itu nista? Tidak, kau salah besar. Duniamu sempit, duniamu kerdil.
Silahkan nikmati aturan2 mu.
Rimbaku pun bukan tak beretika. Aku tak pernah menyalak sembarangan. Aku tak pernah berburu seenaknya. Aku hormati ekosistem. Karna akupun bagian darinya.

Aku sadar, kata-katamu tak sepenuhnya salah, aku akui dengan lapang dada. Tapi hak itu masih miliku. Kalau kau tak suka berjalan beriringan denganku, ya jalanlah lebih dulu atau tunggu sampai aku hanya terlihat seperti bayangan. Kalau kau tak bersedia mendengarku bernyanyi, pilihlah musikmu sendiri, aku berhak atas senandungku. Kalau kau tak suka dengan isi tulisanku, ya tak usah kau baca, kau bisa membaca headline berbagai surat kabar yang memberitakan penurunan moral, pergeseran makna atau berita kriminal yg menurutmu lebih berbobot daripada sebaris kalimat yang aku tulis. Kalau kau tak sudi berbicara denganku, dengan senang hati aku terima, tak usahlah kau berbasa-basi, aku pun tak butuh basa-basi.

Biarkan bumi yang menghukumku jika memang aku salah. Tapi bukan kau. Bahkan dari segimanapun kau tak punya hak secuilpun atas ragaku.

Tapi aku yakin bumi ada di pihakku. Dan ada di pihakmu. Karna bumi memiliki kita. Tapi kita bukan pemilik bumi. Sadarlah itu.

Selasa, 16 Februari 2010

Makhluk Ambigu

jeritanmu adalah desahan tanpa henti yang menggaung di seisi bumi.
kau berderma untuk diterima. bukan menunggu pahala.
kau adalah makhluk karnivora paling jahanam yang pernah ada.
tak kenal rasa iba.

siapa bilang aku takut?
tak sedikitpun aku berniat beringsut dari tatapanmu yg maut.
kau berdiri di sudut, menanti siapa saja yang akhirnya kau taut.

tempatmu bukan hutan rimba, dengan asas yang kuatlah yang keluar menjadi pemenang.
kau berpijak dalam sebuah layar lebar yang dinikmati banyak orang.
apa kau tak merasa lelah menjadi sasaran tatapan beribu pasang mata?
ohh. aku lupa. kau cinta teramat sangat akan lakonmu.

tapi duniamu hanya layar lebar itu.
panggung yg luasnya tak lebih dari sepersekian senti meter.
layar lebar yg terdiri dari sel dan jaringan-jaringan yang merupakan pusat supervisori.
ya..
kau jahanam yang hanya hidup diduniamu sendiri.
kau tak benar-benar hidup dengan menghidupi hidupmu.
kau hidup bukan untuk hidup.
kau hidup hanya untuk waktu. tak lebih dari menunggu waktu.
lalu akhirnya kau lenyap.
ketika kau musnah, yang teringat hanya lakonmu, bukan hidupmu dan seisinya.
karena kami tau, kau adalah makhluk ambigu.

Kamis, 11 Februari 2010

Rutinitas Tanpa Batas

Menyeka luka bekas siksa. Rasanya seperti meneteskan air jeruk nipis tepat diatas luka sayatan lalu ditaburi garam setelahnya.
Manis, hidup saya pernah manis. Seperti gulali yang tak henti dilumat dan dinikmati anak umur 5tahun selagi menonton kartun. Tapi gulali bukan tak bisa habis. Dan si anak bukan tak bisa bosan akan rasa manisnya. Maka kapanpun, akan ada yg ditinggalkan dan meninggalkan.
Cerah, hidup saya pernah cerah. Seperti matahari ketika tepat pukul 10 pagi yang kata orang hasiatnya sangat bagus untuk kulit dan pertumbuhan, tak jarang berjuta ibu muda menjemur sambil membawa momongan mereka berjalan-jalan ditaman ketika pukul 10 pagi. Tapi awan bukan tak pernah mendung, dan bulan tak bisa bersabar dan terlalu setia pada malam. Maka, sudah pasti akan ada yg muncul dan tenggelam.
Ramai. Hidup saya pernah ramai. Seperti pasar malam yang dikunjungi beribu orang untuk mencari hiburan dan kesenangan. Tapi namanya saja pasar malam, maka jelas siang hari mereka lenyap ditelan aktivitas. Maka sudah pasti, akan sepi pada waktunya.
Saya berusaha mengingat kembali manisnya gulali kesukaan saya, bagaimana ia menggelitik lidah saya dan menyebarkan rasa manis hingga kerongkongan saya. namun, orang tua bilang terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis tidak baik untuk kesehatan.
Saya buka pintu rumah, lalu cahaya matahari pagi menyeruak tak sabar, tak bertoleransi pada mata saya yang silau dibuatnya. Namun,perlahan cahaya itu menjauh seperti enggan berlama-lama.
Saya rindu ramainya pasar malam dengan gelak tawa tersebar disetiap sudut.
Saya anggap semua itu rutinitas.
Manis.asin.asam.pedas. Yang saya kecap adalah bagian dari rutinitas yang senantiasa berganti.
Cerah.mendung.gelap. Itu juga rutinitas yang hadir dalam hidup yang dihidupi.
Ramai.sepi.gelak.tawa (pun) rutinitas.
Rutinitas tanpa batas.
Sebagian terlalu setia menghampiri. Dan sebagian lagi terlalu cepat pergi.
Tapi sekali lagi, saya anggap itu adalah rutinitas. Yang membuat saya (manusia) sadar, bahwa saya hidup. Bergerak.berganti.berubah.dinamis.
Jatinangor.
12 februari 2010.
Gebi meidina sabarthin.
Ya, saya manusia, dan saya menghidupi hidup itu sendiri.

PS: hari ini salah satu sahabat tercinta saya berulang tahun. tepat tanggal 12. selamat ulang taun Tarra Tiara Yendra :)

Sabtu, 06 Februari 2010

R I N D U

ada perasaan menyayat setiap kali menatap selembar foto itu
ada perasaan terpenggal.

aku rindu bercengkrama, aku rindu mengolah kata menjadi irama.

tawa mereka kini bagai harta karun , mesti kugali, kutelusuri, itu (pun) belum tentu kudapati.

air memang terlampau mengalir. deras. bahkan tembok kokoh pun tak mampu mengalahkan kuatnya aliran itu.
terlalu besar. terlalu deras, hingga banjir tak mungkin dihindari.

aku berserah disini. menanti hilangnya bekas sayatan. menanti tawa, dan menanti surutnya aliran banjir. biar kubenahi lagi nanti. pasti.

Jumat, 05 Februari 2010

(sweet) escape

saya rapuh.sebuah sentilan saja akam membuat saya rubuh. ribuan mil saya terbang, tetap saja saya tak ingak jalan pulang. setiap kali saya bertanya arah, jawaban mereka selalu ambigu. dan (lagi) saya tak juga sampai pada tujuan.
saya lunglai. satu senggolan saja akan membuat saya terkulai. jutaan kali saya berusaha mengingat. tak juga saya ingat siapa saya. setiap kali saja berpikir. pikiran saya selalu berujung absurd. dan (lagi) saya tak juga menemukan jawabannya.
saya rapuh ketika berhenti terbang.
lalu saya memilih terbang lagi.
saya lunglai ketika terdiam dari terbang
lalu saya (pun) memilih terbang (lagi)
-sampai jumpa arah, sampai jumpa pikir-

Minggu, 11 Oktober 2009

exploded

Tertawalah.
Bahagialah.

Puaskah ? telah membuatku terjerembab, terpasung, duduk mematung dalam bingkai keterpurukan.
Tenggelam dalam jerami hidup, tersingkir dari keriuhan pesta malam.

Aku senang melihatmu terbahak-bahak, meluapkan keanggunan hidupmu, dengan meng-eliminasiku,

Siapa bilang aku berkorban untukmu? Untuk bahagiamu, Untuk kelangsunganmu?
Siapa bilang aku menjual asa-ku. Tidak. Sama sekali tidak benar atau sekedar hampir benarpun tidak.

aku memang menangis.
Aku memang kecewa.
Aku memang tak rela.
Aku memang mengeluh.
Aku memang tak terima.

Ku beri tahu, aku hanya sedang menikmati sisi kemanusiaanku.
Melatih bagaimana aku harus berekspresi.
Look at me now, am fallin down
But am not scared cos I don’t care
I know am unperfect
Am not ashame of my mistake
Cos I realize, a million times
I know am unperfect.

things can be broken down


Things can be broken down.. Such blessing comes to few.. aku bercermin. Lalu kemudian tersentak. Aku mendapati diriku terluka, dahiku lecet, hidungku berdarah, pipiku lebam, dan bibirku robek. Aku bingung, lalu mencoba menggiring pikiranku ke masa lalu, oh bukan, tepatnya berusaha menggiring memoriku untuk mengingat-ingat apa yang aku alami hingga aku seperti ini.
Satu jam.. Dua jam.. Tiga jam..
Aku masih tetap berdiri di depan cermin dengan posisi tegak tepat dihadapan cermin yang mampu menampung bayangan seluruh tubuh mungilku. Tatapanku merayap, menelusuri setiap bayangan bagian tubuhku yang terpantul cermin. Aku mulai kasihan melihat bayangan itu, kini bukan hanya wajahnya saja yang terluka, tapi lengan, kaki, bahkan perutnya mulai mengeluarkan cairan kental berwarna merah bernama darah. Aku semakin bingung, dan itu membuatku semakin mematung dan tak juga beranjak. Aku bingung, bahkan memoriku sebagai manusia tak mampu mengingat-ingat. Tak mampu menelusuri setiap kejadian yang menyebabkanku terluka.
Aku bingung, aku kasihan pada bayangan itu, tapi aku sama sekali tak merasakan sakit sedikitpun, kugigit bibirku yang robek, kutekan-tekan bagian lebam di wajaku, aku tetap tak merasa sakit. Aku paksa. Aku paksa memoriku terbang, mengejar bayangan-bayangan yang sempat tak aku hiraukan. Aku mulai ingat…aku mulai tahu…
Aku terlalu senang waktu itu, aku berlari-lari sendirian, aku berlari sambil tertawa, menggaungkan kebahagiaanku, kurentangkan tanganku lebar-lebar membuatnya seolah menjadi sayap yang siap membawaku terbang, aku senang waktu itu, aku terlalu bahagia waktu itu..aku mau alam tahu bahwa aku bahagia..aku bahagia…aku terlalu bahagia.tapi lalu kemudian tiba-tiba bumi menjadi gelap, aku tak bisa meraba langkahku, akhirnya aku jatuh, terperosok, di tengah kebahagiaanku yang amat sangat, yang kupikir akan kurasakan sedikit lebih lama. Aku jatuh, terluka, namun, untungnya aku tidak merasakan sakitnya, kini, tugasku adalah mengobati luka yang tampak ini, agar tak membuat orang kasihan melihat ragaku. Aku tak mau orang tau bahwa aku baru saja terperosok kedalam jurang, aku mau orang tetap mendengar gaung bahagiaku.

*bukan sebuah karya baru, kutuangkan rentetan kalimat ini beberapa tahun lalu, dan kini, momen ini menyeruak kembali kehadapanku