Tampilkan postingan dengan label words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label words. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

tentang sepatah dua-patah kata yang miskin rasa


Ada beberapa hal yang sepertinya 'harus' kita lakukan, tanpa ada satu orangpun yang meminta.

Ego adalah perkara menabur duri yang lalu tanpa-sengaja-seringkali terinjak sendiri.
Obsesi adalah perkara memilah rasionalisasi dari mimpi dan mimpi itu sendiri.
Karma adalah perkara jurang pemisah antara hidup yang 'sedang' menyenangkan dan yang 'sedang' tidak menyenangkan. Roda berputar, Tuan, Nona.
Penyesalan adalah perkara nilai yang kita ingkari dengan kesadaran penuh.
Mimpi adalah perkara harapan yang beranak pinak, meliuk masuk alam bawah sadar dan mengarahkan pikiran pada satu kondisi.

Jadi, beban hidup itu banyak. Bukan hanya pekerjaan, deadline, pertengkaran sesekali dengan pacar, adu mulut dengan teman, beradu argumen dengan atasan, atau tagihan yang belum mampu kita lunasi. Beban hidup kita seringkali dipengaruhi beban hidup orang lain (yang semestinya tidak)

Tapi bukanlah kita diminta untuk belajar toleransi sedari kecil? bahkan toleransi berkali kali bertengger dalam kurikulum belajar mengajar, pun tenggang rasa, tepa salira.

Buktinya menjadi putih bagi si hitam masih saja kita lakoni, menjadi kasar bagi si lembut seperti memang begitu adanya.

Begitulah betapa memang 'abaikan saja mulut-mulut yang mengkerdilkan kamu' harus dijalani. Karena monster monster berbalut pakaian putih lengkap dengan sayap sayap malaikatnya tidak akan pernah memutus lakonnya.
 




Kamis, 29 Maret 2012

Graha Aulia Mahisa

 Selamat menikmati senja, Graha :)

Graha Aulia Mahisa
Segagah gedung tertinggi seantero Jakarta. Sosok yang demanding namun intuitif. Sosok yang bulat dan persegi sekaligus. Dia bisa sangat fleksibel. Tapi juga bisa menyikut apapun yang menurutnya tidak sahih.

Pernah sekali waktu Graha menuliskan satu bait lirik "jangan berbicara tentang hembusan kalau kamu tidak tahu bagaimana cara mengukurnya" entah apa maksudnya.

Suka berlarian, lompat sana-sini. Menjelajahi sudut-sudut atraktif diam-diam. Mengurutkan prediksinya. Memagari kepercayaannya. Mengimani langkahnya. Dan tersenyum pada hidupnya.

Tapi Graha seringkali menolak uluran tangan yang tak dikenalnya. Graha menyimpan sedikit ragu pada rangkaian hidup diluar dirinya. Seringkali menerka-nerka dan berakhir pada kesimpulan yang misterius. Seringkali mengikat kakinya sendiri. Ia lupa kalau langkahnya begitu gagah.

Segurat optimisme akan selalu mengambil alih. Ia lalu akan berlari dan membesar seiring bergantinya jenis-jenis buah yang dijajakkan penjual di pinggir jalan. Ia akan pecah dan menelurkan berbagai keindahan. Graha yang sejati. Membulat dan membal.

Rabu, 04 Januari 2012

So what will be left of us in the end?



( Image : nataliekucken )

Ada keheningan yang menyublim keriuhan semesta. Merampok semua kejujuran dan penghormatan seketika.
Semestinya kita tidak saling menghardik. Tapi kenapa yang ada adalah ribuan kata-kata kikir apresiasi. Minim akan rasa menginjak bumi.
Berbagi kudapan di sore hari tidak lagi menjadi harmoni. Kami runtuh dalam kegemparan hiruk pikuk pasar malam.
Kami tidak berjualan, tapi ada saja yang menawar dengan harga tinggi. Padahal tidak ada papan warung atau bangku kayu.

Kami mengikatkan diri kencang-kencang dalam kesederhanaan. Kesederhanaan perihal rasa dan hasrat. Tapi kami berdiri dalam dimensi yang berbeda.
Dan perbedaan adalah yang maha agung. Ada perbedaan maka ada hidup. 
Ada perbedaan antara kami dan pencipta kami. Maka kami hadir. 
Ada perbedaan antara ayah dan ibu kami, maka kami lahir. 
Ada perbedaan antara kami dan adik kakak kami maka kami saling mendorong, menyokong, menolong. 
Ada perbedaan antara siang dan malam maka umur terus membulat. 
Ada perbedaan antara bumi,langit dan akhirat maka kami berusaha.

Kemana perginya embun pagi? Jatuh bergulir dari setiap helai daun dan dahan.
Kemana perginya matahari? Ia pergi menengok belahan bumi lainnya.
Kemana perginya nina bobo? Ke alam mimpi yang terkadang tak mampu kami jabarkan pertentangannya.
Kemana perginya akal sehat? Mati ditelan rusa tanpa tanduk yang menggerogoti ulu hati kami masing-masing.

Kami ini lelah memilah. Karena pada akhirnya setiap pilahan tidak menjadi bagian utuh. Sementara kami terlalu egois untuk mendekap pilahan masing-masing.

Kami berdarah.
Kami mengutil asa satu sama lain. Sampai-sampai tak ada lagi kata ganti untuk benda kepemilikan karena kami semua merasa sebagai sang empunya.

Tubuh di balik selimut, berbaktilah pada setiap kandungan oksigen yang mengalir dalam darahmu. Berbaktilah pada setiap tetesan darah yang tersedot nyamuk sebelum kemudian kau tepuk nyamuk itu hingga mati remuk. Berbaktilah pada jemari yang menguasai sekian banyak dunia.

Berbaktilah. 

Selasa, 27 September 2011

ada masa ada kala

A : Berapa lama kamu mengenalku?

B: Kurang lebih Lima tahun, 5 years 2 months to be exact. Waktu itu kamu menggunakan kaos oblong bertuliskan I LOVE NEW YORK dengan aksen sulur di bagian bawah. Seleramu aneh, dan kamu bilang itu unik. Haha.

A: haha, you have no idea where I got that shirt, waktu di phuket aku ketemu bule asal New York, he asked me, have I been to New York? dan aku jawab 'belum' then he gave me that shirt. Dan kaos itu jadi kaos favoritku, pertama karena warnanya kuning, kamu tau itu warna kesukaanku, kedua karna aksen sulur itu menarik perhatianku, sulurnya gak keputus dari ujung kanan sampai ke kiri. indah.

Lalu, kenapa kamu akhirnya memilih bertanya padaku di tengah ratusan manusia lain hari itu, kamu bisa saja bertanya pada Syra yang saat itu tepat di sampingku?

B: karena kamu mengenakan kaos berwarna kuning sementara yang lain mengikuti aturan pendaftaran, mengenakan kaos polos putih. Warna kuningmu itu mengganggu pandangan sekaligus menarik perhatianku. Dengan tanpa sadar, aku berjalan ke aramu, bertanya “kalau lupa bawa foto, masih bisa daftar gak ya?” haha. Seharusnya aku bertanya pada panitia.

A: dan, dengan baik hati aku membantumu menanyakan hal itu pada panitia.

B: Ya, kamu baik. Kamu seperti warna kuning. Ekspresif, mencerminkan kebahagian dan optimisme. Dan kamu membawaku pada biru. Penyuka biru sangat imajinatif, dan kamu selalu berhasil mengundang imajinasiku.

A: tapi aku kehilangan unsur kuning dalam diriku. Sementara kamu semakin biru. Ini tak adil.

B: sudahlah. Kita tidak sedang mengukur kadar warna dalam larutan. Kita sedang memandang dua buah jam dinding. Ah, sekarang giliranku bertanya. Kenapa kamu memajang dua buah jam dinding yang bentuknya hamper sama di ruangan ini?

A: yang biru, itu melambangkan kamu, tentu saja, dan kamu sadar akan itu. Yang putih, well, I have no idea, I just picked it up somewhere and put it on my wall. Sengaja kupajang keduanya dengan settingan waktu yang sedikit berbeda. Yang putih sengaja kusetel 10 menit lembih lambat daripada yang biru

B: Kenapa? Dan maaf jika aku menanyakan hal ini, baru kali ini aku diperbolehkan masuk ke kamarmu, setelah 5 tahun lamanya.

A: yang biru itu, adalah kamu dan waktumu, sementara yang putih adalah waktuku, jika aku belum mampu menyamakan posisi denganmu, aku masih punya waktu 10 menit untuk mempersiapkan diri. Curang, memang. Kadang, ketika kamu telat menjemputku, aku menyalahkanmu dengan berdasar pada waktu yang aku lihat pada jam biru. Namun ketika aku akan menemuimu, aku akan pergi jika jam putih sudah menunjukkan waktunya. Aku tak suka menunggu kamu. Menyedihkan. Aku tak pernah mau sekalipun menunggu kamu. Aku mau kamu ada ketika memang seharusnya kamu ada.

B: kamu….. mori, kita tidak sedang berkompetisi, kamu tidak bisa selalu menang, begitu juga aku, dan kita tidak sedang berbicara tentang –MAU-atau-TIDAK- . kamu tau apa maksud kedatanganku.

A: Ya, dan bisakah kita tidak membahasnya? Biarkan saja aku dengan asumsiku yang mungkin jauh dari presisi. Dan kamu, bisakah kamu menunggu sampai aku tertidur? Setelah itu kamu bisa kembali. Tapi tolong tunggu aku sampai lelap. Aku tidak suka menunggu kamu, apalagi melihatmu pergi.

B: Mori, maaf. Ada hal-hal yang memang harus kamu tunggu, entah sampai kapan dan ada hal-hal yang tidak bisa kamu hindari, dan kamu tidak bisa terus menghindar. Sadarkah kamu bahwa hitam telah merenggut kuningmu perlahan? dan, kurasa sudah saatnya aku pergi, dan sudah saatnya kamu...... melihatku pergi.

Mori, bergeraklah. lewati. kamu bukan tak mampu, kamu tak mau. itu pilihan kamu, dan ini pilihanku. kamu tau aku tak mungkin meninggalkan Raina, Ia tak bersalah, begitupun Raka yang baru saja hadir ke dunia. kamu tau ini tanggung jawab yang kupilih. bukan karena aku mau, tapi dari sekian banyak pilihan, ini adalah hal terbaik yang mampu kulakukan.


Selasa, 23 Agustus 2011

HA dan HI bukan dua kata, bukan pula dua kode

HA!
ketika pohon senang sedang rindang. nyiur melambai tak lagi mengecoh perhatian.
jika satu ditambah satu sama dengan dua. maka jelas aku dan kamu tidak sedang mendua.
karena kita bukan tambah, bukan kurang.

HI!
hai! selamat petang sesama penyerang. iya, penyerang, pejuang. jangan mau dierami oleh perasaan berang. semangkuk emosi bisa habis tak tersisa ketika petang tak bersahabat dengan riang. kalau bingung, coba pandangi 2 ekor nyamuk yang berterbangan diantara betis kanan dan betis kirimu. sekian

*jangan terlalu serius menanggapi keseriusan. siapa tau kamu hanya terbius.


Senin, 08 Agustus 2011

Menggenapkan sang ganjil

Satu dan tiga
Tujuh dan lima
Ganjil adalah kurang
Namun kurang adalah perjalanan
~
Aku tak lagi mendayu-dayu dalam biru
Aku tak lagi mengejar sulur yang meliuk buruk
Aku tak lagi sesumbar ketika mendapat kabar
~
Merah dan kuning
Dicampur aduk hingga satu sama lain kehilangan warna yang hakiki
Aku ingin tetap merah
Aku akan tetap kuning
Dan kamu adalah bening
~
Ada bidang datar yang memutar, dan aku, kamu, kita menapakinya dengan apik
Ada sederet huruf yang kabur, dan aku, kamu, kita ikur berbaur
Kita mujur kali ini. Mari menabur syukur
Menganyam harap dari setiap sendi kehidupan
Membangun rasa dari sumsum asa
ada niat, ada laku, ada ukuran baku. tapi tidak kali ini
karena aku, kamu, kita tidak saling mengukir semu

Permata Hijau
08 agustus 2011
dimana suara peperangan dari ruangan sebelah tengah bersautan


Rabu, 20 Juli 2011

se-tengah-tahun-ini

Lucu adalah ketika menemukan diri sendiri menjadi sebuah objek dari sebuah tawa yang juga dialami diri sendiri? Oke, maksudnya, menertawakan diri sendiri. Bukan, bukan karena si 'diri sendiri' ini melakukan hal yang patut ditertawakan, tapi karena si 'diri' ini terlampau tak disangka-sangka mengalami sebuah-suatu-proses atau fase yang juara (multi interpretasi :p).
Masuk ke semester 2 tahun ini, maka idealnya kita memasuki sebuah masa pematangan (bukan, bukan pematang sawah). Kalau di dalam sebuah business plan, semester 2 itu waktunya evaluasi apa saja yang accomplished di semester 1 dan lalu memulai tahap selanjutnya untuk melengkapi daftar resolusi di awal tahun. Sayangnya, hidup itu gak serumit business plan tapi juga gak semudah mengejar deadline (apa? Deadline? Mudah? *ditimpukin sekampung*) ya, let's say that each and every one of us are the CEO of a company. We run our own business, we take care every competition to be the real champion, we build and protect our image, we talk as a person and as a group, we create plans and goals, we deal with a bunch of monsters, we reviewing and introspecting. Then, here we are, a part of God plan.
Pertengahan tahun adalah momen yang ideal untuk review diri. Contemplate. Before we put our foot to the next level of life. As a person, we are human being. But as a group, we are basically need a social relationship with the whole universe. As in a bowl of ramen, we’re completing each other. Nah kan jadinya OOT. Ah tapi gak ada topic spesifik kok dalam tulisan ini. Hihihi. Intinya, pertengahan tahun ini semacam pembagian raport. Oke, saya coba review (untuk diri saya sendiri) counting the checklist (dalam hati) ehmmm, gak banyak ternyata. Hahaha. Dan akan menuliskan beberapa to do list yang harus bertanda checklist di akhir tahun nanti. Plus, mind mapping.
So, happy living great people J

Jumat, 15 Juli 2011

transatlantic


Rasanya seperti mencium bau durian tanpa penampakan buah berduri itu dari jangkauan mata.
Meraup dengan rakus memang tak pernah membuahkan kepuasan abadi.
Mulut kamu punya daya tampung, wahai manusia. Percuma jika kamu berusaha menyuap dirimu sendiri dengan 45 menu makanan favoritmu dalam satu waktu.
Kamu tahu apa itu waktu? Apa itu tarik nafas buang nafas? Apa itu berlari kecil? Apa itu bersandar dibawah pohon akasia? Apa itu mengecap after taste setiap kali kamu mengunyah pare? Apa itu luka diujung jempol kaki karena tersandung saat berjalan terburu-buru? Apa itu kedipan cahaya kunang-kunang di jaman sekarang? Apa itu lebam di hati?
Agra, tolong jangan berbicara seolah kamu tak punya waktu lagi untuk sekedar mengentaskan apa yg ingin kau sampaikan.
Agra, jangan kamu ulangi berbicara ketika kamu makan misua dengan sayur mayur pelengkapnya, mulutmu penuh dengan kata yang tak runut, berantakan.
Agra, jangan kau malu memayungi dirimu sendiri hanya karena payung pemberianku itu berwarna merah jambu dan bermotif bunga.
Agra, jangan menelan ludah berbarengan dengan mengedipkan mata. Itu membuatku merasa kamu bosan.
Agra, tolong jangan berkilah ketika kamu tahu bahwa kamu melontarkan rentetan kalimat panjang yang sesungguhnya kamu sendiri tak paham konteksnya apa.
“melati, aku ini pembela diri, kamu tahu itu dengan pasti, aku manusia dan akan tetap menjalani hakikatku. Bahwa aku tak bisa menepis ego, tak akan mampu menahan diri untuk memenuhi kebutuhanku akan kepuasan, kamu tahu aku haus dan juga jengah, dan aku akan tertidur dalam ilusi yang kupilih sendiri”
Demi pohon mangga yang kini tak lagi berbuah karena akarnya sudah kusirami minyak tanah, demi daun putri malu yang tak lagi merekah setelah kuncup terkena sentuhan sepatuku lalu tanpa sengaja aku injak, demi satu keranjang buah pisang yang kini membusuk di meja kayu jati di pojok kamarku, dan demi secangkir teh yang di bibir cangkirnya tertinggal bekas gincu merahku. Sumpah, aku ingin berlalu. Mengelabui masa lalu. Melampaui masa kini. Memadu jera dalam peristiwa. seperti kamu dan duniamu yang terkadang semu.
Kisah itu hanya harapan sebelum semuanya kejadian. Tapi tak setiap kejadian sejalan dengan pengharapan. Agra, kamu kakak sekaligus kekasih dalam imaji hati yang murni. selamat berlalu, darahmu dan darahku tak pernah bisa ditawar apapun. kita satu. kita membisu.

Kamis, 09 Juni 2011

sebut saja, KAMU

Semalam, baru saja, maksudku, beberapa menit yang lalu, ada senyawa yang terlampau reaktif bereaksi di antara nafas dan norma. Sebut saja kepasrahan. Ketika umpan disebar, tapi kail tak bergerak sedikitpun maka redamlah keinginan itu.
Bukan untuk lupa, tapi untuk kelak kau coba lagi.
Kamu duduk setengah bersandar dengan kedua tangan terbuka lebar memeluk gitar dan jarimu berdansa memetik nada. Adakah yang lebih indah dari itu? Saat ini, tentu belum.
Kamu reaktif cenderung impulsif. Menendang botol kosong ketika marah, mengerutkan dahi tanpa mau tau bahwa ada yang tersinggung dengan reaksimu.
Kamu ceroboh. Mematahkan kunci motormu sendiri. Tanpa sadar menyebabkan laptopmu terjatuh di dalam mobil. Meletakan gelas di ujung meja-membuatnya hampir tumpah-.
Tidak hati-hati mencukur kumis tipis di atas bibir sehingga meninggalkan luka segaris yang kau bilang itu keren.
dan akhirnya kamu pun lupa menaruh diri. lupa menyaring hari atau menuang syukur. kamu terlalu ceroboh pada masa. dan ia tak pernah mau tau. kamu akan mengkerut pada waktunya, mengkerut seperti siput yang sembunyi di balik cangkang.
jakarta,
beberapa hari sebelum hari ini, maaf, saya lupa (lagi-lagi)

Kamis, 14 April 2011

Bisik Gendar Dalam Hati

Hingga malam juragan, saya berjualan.
Ada tetesan keringat seharga seratus perak, tapi ada juga darah yang tercecer sia-sia.
Bukankah saya juga berseragam? Saya berseragam manusia, sama seperti yang lain, bisa disentuh bahkan dibunuh. Seragam saya dan tuan sedikit berbeda. Tapi hakikatnya tetaplah sama. Bukankan seragam dibuat untuk meminimalisir perbedaan? Begitulah orang dulu, tuan, menyatukan sesuatu yang berbeda tanpa harus selalu membuatnya sama sama.
Permisi tuan, saya hendak menyerah pada lelah. tapi bukan pada iman saya, tuan boleh gerah dengan nafas saya. tapi saya tidak merasa penat dengan suara tuan yang senantiasa memekakan telinga saya.
Nama saya gendar, dan saya tak pernah merasa gentar. bahkan ketika seragam saya dilucuti, atau sekalipun tubuh saya dikuliti. selama debar itu masih gigih menuntun saya. saya lari dan berhenti setiap beberapa langkah, sekedar mengambil nafas, namun saya kembali menyusuri area yang sudah saya gambar sebagai peta dalam benak dan jiwa saya.
*teruntuk siapa saja yang berjuang di bawah sengatan matahari bercampur polusi.
matahari membuat kalian hebat

Minggu, 06 Maret 2011

NAH!

nah! hmm.. "nah!" sepertinya bukan pilihan kata yang menarik dan berkelas untuk memulai sebuah tulisan. tapi nyatanya kata itu yang pertama kali muncul dan menggiring jari-jari genit saya.
kenapa "nah!"?

menurut KBBI nah adalah kata seru untuk menyudahi (menukas, menyimpulkan, dsb) perkataan atau jalan pikiran: --

nah, banyak momen dimana kita mengutus kata "nah!" untuk meluncur dari mulut kita. momen dimana kita tersadar, menemukan, menegaskan, menunjukkan, etc.

"nah!" momen saya kali ini adalah : beginilah sebuah sebab yang ternyata melahirkan resiko dengan efek domino. bahwa ketika kita sudah hati-hati, well prepared, menimbang dengan seimbang, memilah dengan telaah. sepersekian kemungkinan untuk terjadi 'kecelakaan' itu tetap ada. disaat kita merasa tidak lengah dan sangat siap, justru saat itulah kita kecolongan. saya kalah kali ini, kalah melawan diri sendiri, terlalu mudah dipecundangi dan dimanipulasi. tapi bahwa waktu tetap berjalan tidak pernah bisa saya pungkiri.

satu persen dari seratus persen tetaplah kemungkinan yang bisa terjadi satu persen kemungkinan terburuk lebih menakutkan dari lima puluh persen kemungkinan terbaik, karena satu persen adalah angka kecil yang membuat kita cenderung menyepelekan dan tidak memperhitungkan bahwa satu persen itu tetaplah sebuah kemungkinan yang harus kita persiapkan.

nah! saya mau belajar, mau menghadapi, mau mengambil resiko bahwa seratus persen yang saya miliki tak seutuhnya milik saya. seratus persen itu terbagi ke dalam beberapa kelompok angka yang masing-masing memiliki lemungkinan.

nah! hidup saya bukan kemarin tapi hari ini. carpe diem, seize the day. the power of now!!

PS : Nah! satu persen kemungkinan itu tetap ada, jangan lupa :)


Minggu, 20 Februari 2011

avalanche

there's a hole. black hole. deep, dark, cold

gayatri menjerit sekuat tenaga, menguras tenaganya hingga habis. mengepalkan tanggannya begitu kuat, hingga kuku panjang jari tangannya melukai telapak tangannya. gayatri tak merasakan apapun, gayatri masih tak mendengar apapun.
gayatri mati dalam sepi
gayatri luruh dalam lintasan air medidih
gayatri mengubur dirinya sendiri dalam lubang gelap dan penuh jerami

senandung pagi yang ia cintai kini menjadi hal yang paling ia benci
ia menggenggam senapan panjang, menembaki semua burung yang berkicau di beranda rumahnya
gayatri mati lemas. lelah membunuh semua yang bersuara pagi ini
gayatri tak pernah berpikir akan bunuh diri, karena pada hakikatnya ia telah mati.
gayatri menjadi hantu bagi dirinya sendiri.
gayatri adalah diri. gayatri adalah pembunuh dan pengubur dirinya sendiri.
gayatri adalah mati.

gayatri menusuk hidup dengan belati, mencabik realita dengan kukunya yang sengaja dibuat runcing. satu yang tak mampu gayatri lakukan, ia tak akan pernah bisa menikam takdir.

Kamis, 26 Agustus 2010

indecisiveness,sort of

Kendati hidup adalah rumit. Tapi sungguh hidup itu bisa sangat mudah. Kita manusia yang membuatnya rumit. Kita telah diberi indera dan diberi akal untuk melangkah. Namun manusia akan tetap menjadi manusia. Saya selalu berpikir bahwa kesalahan adalah sesuatu yang mampu membuat kita menoleh untuk tidak terperosok lagi. Tapi kini, saya merasa bahwa kesalahan itu harusnya bisa tidak ada.
Menyesal adalah sebuah masa dimana kita manusia menghukum diri sendiri dengan terus menyimpan ketidaknyamanan. Saya harus belajar membebaskan. Memerdekakan diri saya sendiri dari segala rasa bersalah. Entah penyesalan apa yg sesungguhnya bergumul riang dan meliuk lincah di dalam batin saya. Tapi saya sebagai manusia menyadari satu hal, bahwa setiap detik akan tetap menjadi misteri.
Ada pepatah yang berkata bahwa masa lalu adalah memori, masa kini adalah anugerah dan masa depan adalah misteri. Tapi bagi saya semua terlihat sama. Semuanya adalah misteri. Masa lalu tidak seluruhnya terungkap, masa kini pun masih melahirkan tanda Tanya besar dalam batin saya, apalagi masa depan.
Saya menggenggam erat tangan saya sendiri. Sebagai symbol bahwa saya tidak sendiri. Karena dalam tubuh saya ada saya yang lainnya. Kami. Baik dan buruk. Akan selalu bergenggaman. Hingga salah satu melepaskan genggaman itu perlahan.
Jera. Saya jera. Bukan karena saya takut. Tapi karena saya mau jadi manusia utuh. Kata orang, yang tak pernah merasa jera bukanlah manusia. Maka saya memilih jera. Memanggil jera. Memelihara jera. Agar saya menjadi manusia.
Tapi saya juga mau merdeka dari jera. Katanya manusia harus mampu menguliti dirinya sendiri. Memilah bagian dirinya. Mendistribusikan energy sesuai pada tempatnya. Mengantar semangat pada mimpi dan harapan. Menjemput tujuan agar menjadi nyata dan terasa.
Kita semua bersedih, terpuruk pada masa ini. Di berondong berbagai berita buruk. Bagi saya, yang saat ini terjadi pada hidup saya adalah bagian dari (lagi-lagi) quarter life crisis. Melangkah percaya diri namun dikuntit oleh rasa ragu. Meraba-raba jalan dan mengintip setiap sudut. Itulah saya, kami dan mereka. Tak akan pernah kita lepas dari krisis. Yang mampu kita lakukan saat ini adalah menyiasati hidup, menyelami keadaan mengenali semua warna dan menyentuh segala kesempatan dan berlari sekencang mungkin agar tidak dipecundangi keadaan.

Rabu, 18 Agustus 2010

AJAL


menjelang ajal kita mengerang. menerjang segala upaya. tapi ajal akan selalu datang.
celakalah bagi mereka yang tak mau mati. haha, siapa pula manusia yang mau mati. bahkan pelacur tua yang tak lagi laku tak mau memilih mati. sekalipun mencoba bunuh diri, manusia tak pernah benar-benar ingin mati. yang mereka mau adalah lari. tapi selama kaki masih menginjak bumi, maka rusuh dan kisruh akan selalu menghampiri, beberapa memilih lari dengan cara mati. sayang mereka yang memilih lari tak menyadari, bahwa mati bukanlah pilihan, tapi harga mati yang harus ditebus oleh siapapun yang telah lahir baik diinginkan maupun tak diharapkan. mati adalah perubahan. dimana zat kita hidup didunia yang berbeda. surga atau neraka mari tak usah kita bicarakan, karena sesungguhnyaa surga dan neraka ada dimana-mana, tak perlu menunggu mati. kebaikan dan keburukan bersanding manis layaknya pengantin yang saling mencinta dan tak mampu dipisahkan. tak usahlah berdebat mengenai baik buruk dengan orang lain. tanya hati sendiri, ketika hati tentram maka baiklah sesungguhnya yang kita lakukan.

mari tak usah takut pada ajal, karena yang lebih mengerikan dari berhentinya detak jantung adalah raga yang sehat tapi jiwa terlanjur mati dibunuh sendiri. jiwa yang melayang entah ke ujung mana lebih mengerikan dari tubuh yang tergeletak tak berdaya. bukankah tubuh hanya media kita hidup? sebuah medium dimana jiwa kita 'numpang' selama menginjak bumi. toh ketika kita mati bukan tubuh kita yang dikenang. tapi perangai dan segala memori yang ada di dalam jiwa-jiwa lain yang bersanding selaras menajalani hidup dengan kita.

sang alkemis berlomba menemukan ramuan hidup. ramuan yang mampu membuat seseorang panjang umur dan kekal. tapi adakah kekal itu? bahkan kebaikan tak lagi kekal ketika kebaikan itu menyakiti yang lainnya. maka tak adalah kekal di dunia ini. cintailah jiwa, bukan raga. karena jiwalah yang membuat raga hidup. dan ketika raga mati, sesungguhnya jiwa masih mampu mencintai.

Sabtu, 07 Agustus 2010

yang tak pernah (lagi) bicara



aku merindukan saat-saat kau menelanjangiku dengan matamu. aku kehilangan pemberi petuah yang tak pernah bicara. kau bukan seseorang yang lincah dalam gerakan fisik. kau gemulai dengan caramu sendiri. kau memberiku kehangatan tanpa pernah menyentuhku. kau meberikanku kebebasan tanpa pernah memalingkan wajahmu. kau begitu pekat, dalam, hidup dan cerah.
kini kau sendu, seperti tubuh yang kuyu. kisut ditelan masa yang tak patut.
aku rindu matamu, IBU.

Rabu, 14 Juli 2010

RENUNGAN

...kenyataan dan segala apa yang ada di atas dunia ini jadi sangat berbeda karena kita tidak melihatnya dengan sama. maksud saya benda yang sama di mata kita jadi berbeda-beda. ini sebuah misteri, yang bisa menghancurkan tentang konsep kebenaran, konsep-konsep nilai. karena tidak pernah ada standar nilai yang bisa cocok dan dipegang sebagai satu nilai pokok yang paling benar. ilmu pengetahuan sudah membuat kesalahan besar, karena sudah merindukan sebuah susunan yang logis dan tak akan pernah sekali ditetapkan, yang bisa berlaku atas segala waktu dan keadaan. matematika sudah terkecoh karena pikiran kami yang mengendalikannya ternyata tak hidup. hidup ini benar-benar sebuah misteri yang tak akan bisa dipecahkan. karena ia selalu mengelak. setiap detik harus dilakukan perenungan, pengujian, dan pengenalan kembali karena setiap detik merupakan saat yang lain dengan segala yang bisa sama sekali bertentangan dengan sesuatu yang ada sebelumnya...

penggalan surat dari PHILLIP kepada NAK SUNGKAN (GUSTI MELEM)
dalam novel AUS karya PUTU WIJAYA

Minggu, 11 Juli 2010

in between

sesama manusia membantu
tapi kita juga membuntu

sesama manusia berkasih
tapi kita juga salah menafsir kasih

sesama manusia bertemu
lalu kita saling terpaku

sesama manusia menghargai
tapi kita juga membenci

manusia adalah baik dan buruk
manusia adalah indah dan nista
manusia adalah keduanya

diantara keduanya berdirilah keyakinan

Senin, 15 Maret 2010

Dari lego, air, hingga underestimate

random. itu adalah kata yang belakangan sering keluar dari mulut saya, dari tuts keyboard yang saya tekan, dari otak dan hari saya. saya kesulitan menyusun segala sesuatu secara komprehensif. saya punya ikatan terlalu lekat dengan kata random. saya baca ulang setiap tulisan saya, di blog, tumblr maupun twitter. semuanya menunjukan ke-random-an saya.

ibarat lego. apa yang ada dalam susuanan syaraf otak saya masih berserakan. bererakan di keranjang mainan yang belum tersentuh sama sekali. dilirik mungkin, tapi belum terpikir mau diapakan sekarung lego ini. mau dibiarkan berantakan dan hanya menjadi potongan-potongan lego? atau mau dibentuk menjadi sebuah benda yang bahkan tak terbayangkan?

ibarat air (ibarat mulu, bodo ahh..), saya ini hanya mengikuti setiap celah yang mampu dialiri air. tidak, tidak, ahh salah, ini salah. saya tarik kembali ibarat yang ini. saya baru saja berpikir, biarkan hidup seperti air mengalir? ahhh, no. big NO. why? karena air mengalir dari dataran tinggi menuju setiap muara yang pasti berada di datara rendah. saya tidak sampai hati membiarkan hidup saya terus mengalir ke arah yang lebih rendah. kata rendah hanya akan bermakna bagus jika disandingkan dengan hati, menjadi RENDAH HATI. tapi jika disandingan dengan diri? lalu menjadi RENDAH DIRI? no good. butut kalo kata orang sunda. rendah diri adalah fase yang saya jamin tidak enak. rendah diri dapat menyebabkan putus asa akut. dan krisis kepercayaan diri yang kronis.

ini dia yang susah. manusia itu memang makluk sosial. manusia hanya akan egois dalam diri mereka sendiri. ketika bersinggungan dengan manusia lain, dijamin egoisme itu akan sedikit luntur kadarnya. jika seseorang dari gerak-geriknya saja sudah kelihatan egois, apalagi dalam otak dan pikirannya. saya jamin anda akan menemukan keegoisan yang mega besar. tapi manusia juga memiliki fitrah. human being. salah satunya adalah egois itu sendiri. ahh kenapa jadi bahas egois begini sih. haha. lagi-lagi, random kan? tidak komprehensif. tidak terstruktur.

ditengah ke-random-an saya yang terlahir dari sebuah fase yang berkonotasi buruk, yaitu keterpurukan (maaf agak lebay) saya mampu merasakan apa yang kebanyakan orang rasakan. bahwa dianggap nothing, nobody itu sungguh bukan pilihan. and lesson learned, bahwa diatas langit masih ada langit. dan banyak orang yang lupa maknanya saya mendadak gerah dengan predikat yang orang berikan kepada beberapa orang, beberapa kelompok. kemampuan berpikir, kreatifitas dan kejelian adalah anugerah tapi banyak orang menggunakan itu sebagai harga. bahwa mereka mahal, mereka lebih. dan saya gerah. saya gerah dengan orang yang 'itu sih gw tau' atau 'gw lebih dulu tahu'. ingat, tanpa disadari, sikap itu lebih tajam daripada perkataan, terkadang. lebih dihargai menurut saya lebih penting daripada diakui, diakui mampu, diakui cerdas diakui berbakat, itu semua hambar tanpa ada yang menghargai. dan dihargai dan diakui adalah perkara berbeda. yaa, saya memang tidak memiliki bakat atau talenta luar biasa di salah satu bidang. dan siapa-sih-yang-tidak-gerah di-underestimate orang? tapi tenang, lagi-lagi lesson learned. bahwa yang terpenting adalah berdamai dengan diri sendiri.

saya ingin cerdas, ingin berbakat. bukan dalam suatu bidang, tapi dalam memandang hidup. saya pernah menulis ini di notes facebook saya, bahwa untuk menjadi jago itu hanya perlu belajar. ingin jadi seorang aktris atau aktor yang mampu memainkan peran sulit? anda tinggal berlatih.,sudah banyak didirikan sekolah acting ingin menjadi seorang penyanyi? anda tinggal berlatih dan belajar teknisnya. ingin menjadi penulis? anda tinggal rajin membaca dan berlatih menyusun kata menjadi kalimat yang indah dan biarkan imajinasi dan pengetahuan menjadi satu. ingin menjadi koki? rajin-rajinlah membaca buku resep dan tentunya memasak. dan tidak ada yang tidak mungkin, sulit mungkin iya, karena kapasitas orang berbeda, tapi sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin. tapi ketika ingin menjadi orang yang cerdas memandang hidup? tidak ada resepnya, tidak ada metode berlatihnya, tidak ada sekolahnya. kita hanya harus menjalani hidup itu sendiri. dan satu lagi. bersyukur. bersyukurlah bahwa kita masih bisa bersyukur.


Never underestimate the capacity of another human being to have exactly the same shortcomings you have.
-leigh steinberg-

Kamis, 25 Februari 2010

Ruas Asa


biar senyap menyergap
biar luluh membasuh
biar jeda tidak pernah mengada-ada
biar sirna ditelan murka
resah ini terlalu membuat gelisah
biar nyata yang berkata, aku tak akan berdusta
sumpah, aku lelah menelaah
tapi itulah asa, kadang tak perlu bersuara
maka biarlah lenyap dalam senyap
agar terang segera menerjang

Minggu, 21 Februari 2010

apakah kita siap?

Bumi hampir lelah manampung kita semua. Begitupun manusia. Manusia kini mulai lelah menjadi manusia. Manusia kehilangan akal yang membuat mereka serupa dengan binatang. Manusia kini ingin serba instan, ingin serupa dengan tekhnologi perpanjangan indera yang bahkan mereka sendiri yang membuat.

Komunikasi menjadi hal berat masa ini. Terikat banyak hal. Komunikasi bukan lagi proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Komunikasi telah terinstitusi. Komunikasi telah bahkan telah menjadi komoditi. Setidaknya dalam pandangan saya.

Ahh.. Ini hanya random thought. Sebut saja begitu. Manusia begitu dahsyat. Berbagai tekhnologi perpanjangan indera lahir dr tangan manusia. Manusia begitu cerdas. Melahirkan banyak kemudahan. Tapi kenapa belum semua cerdas menggunakannya? ah kalo pertanyaan yg satu ini terlampau kompleks untuk dibahas. Rasanya tujuan tekhnologi dibuat sebagai perpanjangan indera telah bergeser maknanya. Teknhologi tak lagi bermakna kemudahan, tapi sebuah prestige, sebuah kepopuleran, sebuah keharusan, tak lagi berbasis pada kebutuhan.
Yaa.. Memang, tidak semua manusia yang saya sebut disini. Beberapa golongan yang setidaknya masuk pada pengamatan saya sebagai orang awam.

Ya sebut saja cliche, perkembangan dan perubahan (yg didalamnya termasuk tekhnologi) memiliki dua mata pisau. Tapi memang begitu adanya. Bagi saya gunakanlah hati untuk memilih. Tanyakan pada diri, apa yang sebenarnya saya butuhkan. Tidak saya pungkiri, saya sebagai pengguna tekhnologi baik itu tekhnologi komunikasi dan tekhnologi lainnya saya pun masih sangat tidak efektif memilih tekhnologi. tekhnologi komunikasi misalnya, saya ambil contoh blackberry, iya, di satu sisi memang itu adalah tren yang berkembang di masyarakat indonesia masa ini, tapi di satu sisi saya merasa itu adalah kebutuhan, dimana intensitas saya terhubung dengan layanan internet sangat sering. tapi... ada tapinya, dengan adanya benda satu itu, saya harus menyisihkan uang saya lebih untuk dapat menikmati fasilitas layanan blackberry internet service. saya mengeluarkan uang, dan saya memenuhi kebutuhan. poin yang ingin saya sampaikan adalah, ketika kita ada atau terjebak dalam sebuah perkembangan besar maka bersiaplah untuk segala konsekuensinya. namun apa yang terjadi? contohnya dengan berkembangnya pengguna facebook di indonesia belakangan malah santer tersiar di berbagai media bahwa facebook mengundang banyak marabahaya dan maksiat. ahh sungguh pendek pandangan itu, kenapa? karena pada dasarnya masyarakat indonesia sendiri yg masih belum mampu memaknai penggunaan tekhnologi. alih-alih meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaa internet secara baik dan benar, atau lebih luasnya lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah dan beberapa lembaga malah menyudutkan facebook, bahkan ada beberapa lembaga yg menganggap facebook haram. ini artinya masyarakat kita memang belum siap mengahadapi berbagai perubahan besar.

jangan dianggap serius postingan saya yang satu ini, saya tidak sedang menjadi pemerhati, ini hanya pandangan saya, saya sendiri bingung kenapa jari-jari ini bergerak pada keyboard dengan membentuk rangkaian kata yang kalian baca sekarang.